Kebanyakan dari Kita Gagal Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Posted on 164 views

Pembaca sekalian, Bahasa Indonesia yang kita pelajari di bangku sekolah tidaklah sama dengan Bahasa Indonesia dalam tutur kata sehari-hari kita. Apakah kalian setuju?

Photo by Jessica Da Rosa on Unsplash

“Sejarah terbentuknya Bahasa Indonesia, sebagai suatu ‘bahasa’, berkaitan dengan sejarah terbentuknya Bangsa Indonesia, sebagai suatu ‘bangsa’, maupun pembangunan Indonesia, sebagai suatu ‘pembangunan’. Semuanya baru terjadi beberapa abad yang lampau, dan wujudnya baru tampak jelas tak lebih jauh dari satu abad yang lalu,”

Ariel Heryanto dalam “Berjangkitnya Bahasa-Bangsa di Indonesia” (Prisma 1989).

Berikut adalah perbedaan yang sudah tim BacaKonten rangkum dari berbagai sumber:

  • Sejarah Terbentuknya

(Kaidah) bahasa Indonesia adalah buatan para sarjana di pertengahan abad ke-20 Indonesia. Bahasa Indonesia bukan turun dari langit seperti Nabi Adam. Bahasa ini adalah buatan manusia. Lebih tegasnya lagi, bahasa ini baru tampak “tak lebih jauh dari satu abad yang lalu”.

Ariel Heryanto menyebut, “Bahasa, dalam pengertian pokok yang kita kenal sekarang, merupakan produk sejarah sosial yang agak mutakhir.” Bisa disimpulkan bahwa linguistik atau ilmu bahasa adalah barang baru.

Sedangkan bahasa dalam sehari-hari merupakan warisan turun-temurun yang berkaitan dengan posisi sosial dan perilaku di masyarakat saat itu. Dalam masyarakat Jawa, yang mana bisa ber-basa artinya tindak-tanduk seseorang, termasuk tutur katanya, telah sesuai dengan hierarki yang ia tempati dalam kelas sosial yang ada.


  • Tata Bahasa

Bahasa yang kita pelajari di sekolahan mengacu pada kaidah serta instrumen penempatan kata benda, kata ganti orang, kata ganti kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Bahasa Indonesia seseorang bisa benar (dalam arti tepat/sudah betul tata bahasanya, linguistiknya), tapi belum tentu baik (dalam arti sopan, pas dengan situasi).

Sedangkan dalam tutur kata sehari-hari mengacu pada informasi yang jelas dan makna berarti positif, baik, bagus. Selain itu, biasanya sudah sepaket dengan tata krama, unggah-ungguh, atau norma.


  • Cara Pandang Bahasa

Bahasa Indonesia (sekolahan) adalah bahasa yang diformalkan, dengan perangkat logika linguistik bahasa Barat. Sehingga lebih mengenal bagaimana satu ujaran didedah dengan cara dipreteli unsur-unsurnya menjadi kalimat, klausa, frasa, kata, morfem, fonem, dan seterusnya.

Bahasa Indonesia sekolahan kita adalah bahasa Indonesianya orang Barat, orang yang biasa dengan tradisi Barat dalam hal kelugasan dan rasionalitasnya mempreteli tuturannya menjadi bagian terkecil seperti kata. Dan mereka juga meyakini bahwa masyarakat bisa dipreteli menjadi bagian-bagiannya yang terkecil, yakni individu.

Sedangkan bahasa dialek lokal (bahasa daerah) tidak begitu mempersoalkan jika kalimat kita terbolak-balik kapan harus memakai “kalau” dan kapan harus memakai “bahwa”, sepanjang kita bisa tahu di waktu mana kita memakai kata “Anda/Bapak/Ibu/Panjenengan”, dan di situasi macam apa kita boleh menggunakan “kamu/kau/langsung menyebut nama”.

Dalam masyarakat Jawa, misalnya, tak ada yang namanya individu. Kedirian seorang manusia akan selalu terikat dengan asal-usul keturunan/keluarganya dan masyarakatnya.


Ketika bahasa daerah bersanding dengan bahasa Indonesia saat kita dituntut menguasai keduanya, akan banyak hal yang jadi tumpang tindih. Atau malah, yang satu menggusur yang lainnya.

Dan ini semua semakin lucu ketika, bagaimana bisa orang yang sejak lahir ada di Indonesia, makan dan tidur di bumi Indonesia, ketika dewasa tiba-tiba divonis tak bisa berbahasa Indonesia. Kita yang bodoh atau perangkat untuk mendefinisikan bahasa Indonesia tersebut yang salah?